GERD: Penyebab, Dampak Jangka Panjang, dan Pola Makan yang Lebih Aman

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) masih sering dianggap sebagai masalah lambung biasa. Banyak orang menyamakannya dengan maag, perut kembung, atau sekadar rasa panas di dada yang bisa hilang dengan sendirinya. Karena gejalanya sering datang dan pergi, GERD kerap dianggap bukan sesuatu yang serius.

Padahal, data menunjukkan sebaliknya. Menurut Kementerian Kesehatan RI, GERD menyerang sekitar 7–20% populasi Indonesia, dan sekitar 40% penderitanya pada tahap awal mengira keluhan yang mereka alami hanyalah maag biasa. Akibatnya, banyak orang baru menyadari kondisi ini setelah keluhan semakin sering muncul atau mulai mengganggu kualitas hidup.

GERD bukan penyakit yang langsung terasa berat. Justru karena prosesnya perlahan, ia sering luput dari perhatian.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat GERD?

Setiap kali asam lambung naik ke kerongkongan, yang terjadi bukan sekadar rasa tidak nyaman. Asam lambung bersifat sangat kuat dan sebenarnya hanya “aman” berada di dalam lambung, karena lambung memiliki lapisan pelindung khusus. Kerongkongan tidak memiliki perlindungan sekuat itu.

Ketika asam lambung berulang kali naik ke kerongkongan, lapisan kerongkongan mengalami iritasi kecil yang terjadi terus-menerus. Iritasi ini jarang langsung menimbulkan rasa sakit hebat. Sebaliknya, ia menumpuk secara perlahan, hari demi hari, tanpa disadari.

Inilah mengapa banyak penderita GERD merasa tubuhnya baik-baik saja selama bertahun-tahun. Namun di balik itu, kerongkongan sebenarnya sedang bekerja di luar kapasitas normalnya.

Mengapa Kasus GERD Terus Meningkat?

Meningkatnya kasus GERD tidak bisa dilepaskan dari pola hidup sehari-hari. Kebiasaan makan cepat, makan dalam porsi besar, lalu langsung berbaring menjadi pemicu yang sangat umum. Konsumsi kopi, gorengan, makanan pedas, serta jadwal makan yang tidak teratur semakin memperberat kerja lambung.

Selain itu, stres kronis dan kurang tidur juga berperan besar. Ketika tubuh berada dalam kondisi stres berkepanjangan, produksi asam lambung dapat meningkat, sementara kemampuan tubuh untuk mengontrol kerja pencernaan justru menurun.

Kombinasi faktor-faktor ini membuat katup antara lambung dan kerongkongan (Lower Esophageal Sphincter/LES) melemah. Ketika katup ini tidak menutup dengan optimal, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Ini bukan akibat satu kali salah makan, melainkan hasil dari pola yang diulang setiap hari.

Dampak Jangka Panjang GERD yang Sering Tidak Disadari

GERD yang dibiarkan tanpa pengelolaan bukan hanya menyebabkan rasa tidak nyaman. Paparan asam yang terus-menerus dapat menyebabkan luka berulang pada kerongkongan. Dalam jangka panjang, lapisan kerongkongan bisa mengalami perubahan struktur sebagai bentuk adaptasi terhadap iritasi kronis.

Perubahan ini dapat mengganggu fungsi sistem pencernaan secara keseluruhan. Bahkan, dalam kasus tertentu, GERD kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker esofagus, sebagaimana disebutkan oleh Mayo Clinic dan National Institutes of Health (NIH).

Inilah alasan mengapa GERD seharusnya tidak dianggap sepele, meskipun gejalanya terlihat ringan di awal.

Mengelola GERD Bukan Tentang Pantangan Ekstrem

Banyak penderita GERD akhirnya hidup dalam ketakutan terhadap makanan. Setiap kali makan, yang muncul bukan rasa lapar, melainkan kecemasan: apakah ini akan memicu asam lambung naik lagi? Ketakutan ini sering membuat orang memilih jalan ekstrem: menghindari terlalu banyak makanan sekaligus, makan sangat sedikit, atau bahkan melewatkan waktu makan.

Padahal,  GERD tidak berarti tubuh harus terus berada dalam kondisi menahan. Justru sebaliknya, pendekatan yang lebih efektif adalah membangun pola makan yang konsisten dan ramah bagi lambung. Bukan soal pantangan yang panjang, melainkan tentang memberi sistem pencernaan ritme yang bisa ia ikuti setiap hari.

Dalam konteks ini, pemilihan jenis makanan menjadi penting. Protein rendah lemak seperti ayam tanpa kulit, tahu, dan tempe cenderung lebih mudah diterima oleh lambung. Buah-buahan rendah asam seperti pisang, melon, semangka, dan bit juga relatif aman dikonsumsi tanpa memicu iritasi berlebih. Selain jenis makanan, cara pengolahan memiliki pengaruh besar. Makanan yang direbus atau dikukus memberi beban kerja yang jauh lebih ringan dibandingkan makanan yang digoreng, terlalu pedas, atau sarat bumbu tajam.

Pola makan seperti ini bukan diet sementara yang dijalani dengan terpaksa. Ia adalah kebiasaan yang realistis untuk dijalani dalam jangka panjang, tanpa membuat tubuh merasa “tersiksa” atau kekurangan energi.

Di sisi lain, protein sering kali dipahami secara sempit, seolah hanya penting bagi pembentukan otot. Padahal bagi penderita GERD, peran protein jauh lebih fundamental. Asupan protein membantu tubuh memperbaiki sel dan jaringan yang terus-menerus terpapar iritasi, termasuk di saluran pencernaan. Protein juga berperan dalam mendukung kerja enzim pencernaan, menjaga energi tetap stabil, dan membantu mengontrol fluktuasi mood.

Hal ini menjadi penting karena GERD dan stres sering kali saling memengaruhi. Ketika tubuh lelah, energi menurun, dan pola makan tidak teratur, sensitivitas terhadap gejala GERD cenderung meningkat. Protein rendah lemak yang mudah dicerna membantu tubuh tetap bertenaga tanpa menambah beban pada lambung. Karena itu, jenis protein ini bukanlah pemicu masalah, melainkan bagian dari fondasi rutinitas harian yang lebih stabil bagi penderita GERD.

Kesimpulan: Jangan Tunggu Sampai Terlambat

GERD bukan sekadar maag biasa. Ia adalah kondisi kronis yang perlu dipahami dan dikelola sejak dini. Tubuh memang tidak selalu memberi sinyal keras, tetapi dampaknya bisa terakumulasi secara perlahan dalam jangka panjang.

Dengan membangun pola makan yang lebih ramah lambung dan memastikan asupan protein yang tepat, risiko iritasi berulang dapat ditekan. Jika kamu atau orang terdekat sering mengalami maag kambuh, dada panas, begah, atau sendawa berlebihan, jangan mengabaikannya. Kadang, yang terlihat sepele hari ini justru menjadi masalah besar di kemudian hari.

0 comments

Leave a comment